Search

Wanderer of Wordzilla

Belajar menuturkan–yang tidak terucap–melalui tulisan.

Pindah Lapak!

Wanderer telah resmi melebur dengan Nellaneva dan eksodus ke http://nellaneva.blogspot.co.id/

Adapun blog ini akan tetap diperbaharui untuk kicau-kicau tak penting seputar keluhan yang tidak berkesudahan, tetapi khusus untuk dunia kepenulisan, Nellaneva jadi jambannya.

Informasi mengenai novel pertama saya yang sedang dalam proses penerbitan juga akan disebarkan di sana.

Terima kasih! 🙂

Racauan Lainnya

Akhirnya saya wisuda. Sulit dipercaya, dengan kondisi saya selama setahun belakangan. Sulit diterima, karena saya masih saja dikerjai selayaknya budak akademik sampai detik ini. Setidaknya, kejadian dua hari belakangan benar terjadi. Bukan mimpi. Saya menyumpah janji wisudawan di hadapan rektor dan staf akademik kampus gajah duduk. Dipanggil dengan nama lengkap dan predikat baru di hadapan para wisudawan dan hadirin lain. Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tulisan saya ini mungkin tidak akan menyerupai tulisan-tulisan wisudawan lain yang lebih berbobot. Tulisan saya tidak akan menunjukkan intelejensi dan integrasi, melainkan keluh kesah yang saya alami dalam menempuh jalan menuju sarjana.

Banyak umpatan, banyak pujian. Suka, duka, tawa, dan tangis mengisi keseharian saya selama kurang lebih empat setengah tahun menjadi mahasiswa. Pada tahun pertama kuliah, saya memulai dari seorang mahasiswa baru yang mengalami krisis percaya diri, merasa salah masuk fakultas, dan yakin bahwa diri ini yang paling bodoh di antara yang lain. Banyak hari saya lalui dengan tangis saat itu. Teman pun masih sedikit. Fokus hanya pada akademik saja karena rasa gelisah dan panik yang menyertai. Apa boleh buat, kampus ini terkenal dengan persaingan dan ambisi akademiknya. Saya jadi terbawa-bawa. Tidak mau kalah saing, mulailah saya bertekad untuk beradaptasi. Lambat laun, bulan demi bulan, semuanya berangsur membaik. Teman saya mulai banyak. Akademik biasa saja –untuk standar kampus saya– namun indeks kumulatif masih tiga koma. Saya pun mulai aktif di satu-satunya unit yang saya ikuti, terutama karena saya bertemu seseorang yang ternyata menjadi obsesi saya hingga detik ini.

Pada tahun kedua, dunia seolah menjelma kawan baik saya. Saya menjadi sekretaris unit di kampus, akademik membaik, punya teman-teman akrab, hingga memperoleh kesempatan disponsori ke negara idaman saya. Pada tahun ketiga, saya menaikkan peruntungan saya. Menjabat kepala divisi di organisasi dan kepanitiaan, mendapat indeks prestasi tertinggi di antara semester-semester lain, dan diterima dalam program pertukaran pelajar ke negara impian. Obsesi saya terhadap sang ketua bertambah besar. Masih saya ingat betul, ketika dia menerobos hujan untuk memberi saya cokelat, mengagumi semangat belajar saya, membela saya dari oknum yang mengejek saya, memberi saya oleh-oleh dari kampung halaman, serta mengajak saya berkompilasi membuat komik –yang kompetisinya kami menangkan. Masih saya ingat motivasi-motivasi yang dia berikan untuk saya: menjadi sekretarisnya, menjadi ketua divisi humas, juga sesederhana ucapan ‘Semangat’ di sela kesibukan akademik. Tidak terhitung tulisan yang telah saya buat tentangnya, meski kini kami terpaut jarak dan dia tidak akan pernah membalas perasaan saya.

Pada tahun ketiga pula, dunia berbalik memusuhi saya dan membawa serta kawan-kawan saya menjauh. Ibarat saya sedang berada di puncak bianglala, kemudian tiba-tiba dihempas jatuh berguling-guling. Saya membuat kesalahan besar yang merugikan beberapa individu, mengubah nasib mereka, dan menjauhkan saya dari sang ketua. Selama beberapa bulan, saya hidup dengan perasaan bersalah akibat dosa saya tersebut. Saya adalah orang jahat yang tidak pantas memiliki teman. Di negara perantauan, meski dilingkupi dengan berbagai pengalaman baru yang menggiurkan, saya selalu merasa kesepian. Ditambah kekhawatiran akademik bahwa saya akan  telat lulus setahun penuh karena terpaksa cuti kuliah. Selama di negara seberang, saya memperoleh banyak, namun saya juga kehilangan banyak. Sepulangnya saya ke Indonesia, saya merasa sangat rapuh. Semuanya berbeda. Teman-teman sejurusan sebagian besar sudah lulus. Jarang saya mendengar kabar dari mereka. Teman-teman yang saya pikir akrab pun, entah ke mana rimbanya. Makinlah saya merasa kesepian, dan yang belum saya ketahui waktu itu, betapa kesepian bisa sedemikian menggerogoti kejiwaan seseorang. Mempenetrasi pola pikir, menjalar pekat di dalam nadi, membuat saya merasa menjadi orang paling sengsara sejagad raya. Saya sadar saya bertindak berlebihan; tapi dalam kondisi seperti saya yang pernah hampir memiliki segalanya namun seketika terenggut, yang tersisa dalam diri saya adalah kekelaman. Setahun belakangan saya begitu payah; membuang-buang waktu untuk bersedih dan menenggelamkan diri dalam fiksi untuk meredam segala emosi saya. Hasilnya tidak lebih baik. Saya masih saja penuh emosi dan mudah terprovokasi. Yang paling membebani adalah ekspektasi orang-orang –orangtua, dosen-dosen, junior-junior– terhadap saya. Saya dijadikan asisten akademik sukarela, padahal seringkali saya beranggapan kapasitas saya tidak cukup untuk itu. Saya tidak pintar, saya hanya suka berusaha keras untuk mencapai target-target saya. Semua itu menjelmakan saya pemurung handal. Saya menemukan banyak kecocokan dengan gejala-gejala anxiety dan depresi, tetapi saya belum berani menghakimi  diri bahwa saya mengidap keduanya. Seorang teman saya, yang bahkan berasal dari universitas terkemuka di Amerika, tidak ragu mengakui depresinya secara terang-terangan. Saya? Terlalu pecundang malah untuk mengakui identitas asli di sini, terlebih mengakui penyimpangan saya terhadap orang-orang di dunia nyata.

Ada yang bilang saya sulit bahagia. Ada yang menganggap saya depresi. Mungkin mereka benar.  Saya kehilangan apa-apa yang pernah saya punya, bagaimana saya bisa bahagia kembali?

Rasanya, pada tahun kelima berkuliah, saya seperti kembali ke titik awal di tahun pertama. Menjadi seorang nihilis.

Nyatanya, betapa beruntungnya saya, Tuhan masih menyayangi saya. Dia angkat saya dari keterpurukan dan menghadiahi saya dengan kelulusan. Dia gerakkan hamba-hambanya untuk membantu saya. Saya sadar tidak boleh menyalahkan Tuhan atas kondisi saya, karena semuanya murni kesalahan saya dan beberapa manusia keparat yang suka bermain-main dengan nasib orang lain. Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun, sayanya saja yang tidak bisa bersyukur.

Kembali ke perjalanan mahasiswa, kampus gajah duduk telah mengajari saya banyak hal. Belajar, bermain, berkawan, bermusuhan, bekerja sama, berkorban, jatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu bangkit kembali. Pada hari wisuda, nyatanya orang-orang yang masih peduli pada saya bermunculan. Sudah lama saya tidak berbahagia seperti itu, apa lagi ketika melihat limpahan senyum mereka. Untuk sementara ini, tidak banyak refleksi yang bisa saya lakukan selain berlatih untuk lebih bersyukur dengan sesedikit apapun yang saya punya serta belajar bahagia dengan hal-hal sekecil apapun. Tidak perlu lagi berkutat pada masa silam karena itu menyedihkan dan menjijikkan. Saya perlu menghadap masa depan, terus memperbaiki diri, dan kembali mengejar mimpi-mimpi saya yang tertunda. Pun saya bertekad ingin membantu orang-orang seperti saya; bila kamu menemuinya, kamu bisa beritahu dia untuk menghubungiku. Saya hanya berharap tidak kehilangan semangat di tengah jalan lagi.

Semoga Tuhan masih berkenan memberi saya kesempatan.

 

 

 

Salam,

Wanderer.

Doa Gembala

Seorang gembala tertatih dalam rintih
Meraung dalam bias gaung semu
Meronta dari cengkraman cakar berkelakar

Pada purnama ia mendamba
Domba-domba patuh dan rumput berurut
Beratap siang benderang, beralas padang melintang

Pada ufuk timur ia bertaruh
Lantas kian pagi menjelang
Bukan pada khianat ia berpulang

QOTD

“This was classic Lockwood. Friendly, considerate, empathetic. My personal impulse would have been to slap the girl soundly around the face and boot her moaning backside out into the night. Which is why he’s the leader, and I’m not. Also why I have no female friends.”

 

Quoted from Jonathan Stroud’s Lockwood & Co.

Well said, Lucy Carlyle!

Muda

Di sudut dua puluh satu
Sayup sendu membisu
Lirih pun tawa membusuk
Tiada yang buatku takluk

Kawan, bukannya kita serupa?
Dibesarkan oleh serigala
Dan monster-monster penempa
Untuk menguasai segala

Aku tidak gila
Aku punya rencana
Kala rimba masih senang meremuk kita
Mengapa tidak berlomba ke ujung senja?

Kawan, ia memang memberi sakit
Setidaknya kita tidak berujung tengik

Alienisasi

gurat pada sebutir kerikil bersurat

tentang kisut-kisut memberengut

dari arang yang sempat mengarak,

kemarau bersenguk-sengak,

cuci otak membelesak,

dan lenyapnya peri-peri pertiwi

yang bersaksi mengenai

domba-domba tersesat dalam gelimang hasrat

 

maka sisakan aku seutas asa

sebelum sasangkala mengangkasa

Ranah Pusaka

Hari Kedua Puluh

Kadang, aku membayangkan sebatang tombak tajam menghujam dadaku, tepat di jantung. Lalu aku menyaksikan tubuhku tersungkur di atas lantai, tanah, atau bila beruntung, kasur. Aku mengamati darah yang menjalar di permukaan. Lama-lama menggenang tenang. Bila atasku kasur, darahku akan merembes pada kain seprai ungu. Ada perpaduan yang berseni dari kekontrasan tersebut: merah dengan ungu. Pola bunga dan sulur putih di seprai akan terwarna merah. Orang-orang akan menyukai pemandangan itu, aku jamin. Namun, setiap aku membayangkan kematianku, selalu ada yang luput: rasa sakit. Aku tidak tahu alasannya, padahal adegan jantung terkoyak seharusnya membuat orang normal merasa bergidik atau mual sedikit saja. Aku putuskan untuk tidak terlalu peduli. Masih banyak bayangan lain yang menggerayangiku, meronta-ronta minta dimanjakan dan dipuja-puja, seperti jaket hijau sialan itu.

 

Ah, bukankah aku yang selalu menjadi antagonisnya?

 

Sebuah cuplikan dari draf novel saya, Ranah Pusaka.

Gaia (Cuplikan Draf Novelet)

Pensil-pensil berserakan di atas meja. Tidak ada yang berbeda dari setiap batang pensil, sepengamatanku. Kat kerap memberitahuku mereka tidak sama: apa-apa yang berhubungan dengan ketebalan, goresan, arsiran, tekanan, gradasi, dan semacamnya. Aku —tidak mengerti tujuan spesifik dari keunikan setiap jenis pensil—memilih sekenanya. Bila ada tinjauan pustaka yang tidak kumengerti, latar belakang yang tidak kupahami, atau hipotesis yang tidak bisa kususun, aku mengandalkan kata-kata Kat: gunakan insting. Untunglah semua pensil warnanya berukuran sama.

Kat masih duduk di seberangku. Di samping kami, dataran gersang menghampar dari balik kaca tebal. Langit mendung akibat selubung kelabu pekat menyembunyikan titik matahari di balik selimut udara keabuan.

Kat melayangkan tatapan penasaran kepadaku dari balik buku sketsanya. Aku pura-pura tidak menyadari, tapi tangan Kat tahu-tahu sudah membereskan urusannya sehingga dia beranjak mendekatiku.

“Lihat, dong,” pintanya.

“Belum selesai!” aku merapatkan permukaan kertasku ke dada. Kat tidak boleh melihat coretan asal-asalanku.

“Pasti sudah hampir jadi. Sudah satu jam lebih, nih.” Kat menarik ujung kertasku.

Pertahananku yang kurang rapat membuat kertas itu terambil olehnya. Sepasang mata hitam Kat menelusuri permukaan kertas.

“Manisnya! Kucingmu?” tanya Kat, memperhatikan gumpalan bulu yang kugambar. Syukurlah, Kat masih mengenalinya sebagai kucing. Berarti aku tidak payah-payah amat.

“Entahlah. Mungkin, dulunya.”

“Ada yang kamu ingat tentangnya?”

Kupandangi gambar buatanku pada rentangan tangan Kat. Gumpalan makhluk berbulu putih, dengan bagian kaki agak keabuan, dan sepasang mata bulat berwarna biru muda. Seperti warna langit di waktu silam. Seperti bola kecil berkilau yang pernah anak-anak kecil sering mainkan, yang tidak kuingat namanya.

“Samar… Sedikit sekali, tapi dia suka menerjang kakiku setiap aku pulang. Juga berbaring di atas perutku. Sepertinya dia suka mendengkur.”

“Namanya?”

Aku menggeleng. “Aku tidak ingat.”

“Dimana dia sekarang?”

“Itu juga aku… tidak tahu.” Jeda bisu menyelip di antara kami. Cepat-cepat aku berusaha mengenyahkan keheningan tersebut. “Sini, lihat gambarmu.”

Kat tidak ragu-ragu menyerahkan buku sketsanya. Sebingkai gambar dengan bubuhan warna-warna yang realistik menyapaku. Dia memang memiliki bakat seniman, Kat. Sudah sering sekali aku mengamati gambar-gambar buatannya. Kali ini, ada impresi berbeda pada ilustrasi yang baru dia gambar.

Dua orang anak kecil sedang duduk bersandar pada sebuah pohon. Daun-daunnya lebat. Buah-buah pada rantingnya banyak dan ranum. Rumput-rumput dan ilalang hijau mengitari kedua anak kecil –satu anak laki-laki, dan satu lagi yang lebih kecil, anak perempuan. Di samping mereka, terdapat sungai bening. Ikan-ikan dan teratai memenuhi aliran airnya. Melatari semua itu, langit biru cerah dengan gumpalan awan-awan putih menaungi para entitas dalam bingkai.

Ekosistem ideal dengan komponen biotik dan abiotiknya…

…atau, pemandangan yang seharusnya sudah tidak ada lagi di dalam benak kami.

“Ini semua… imajinasimu?”

“Tidak juga. Sepertimu, ini samar-samar yang bisa aku ingat. Mungkinkah dulunya Bumi kita memang begini?”

“Bisa jadi, tapi sekarang –seperti yang kita lihat di luar– tidak lagi. Itu alasan kita harus pergi dengan pesawat ini, ‘kan? Apa yang kedua anak kecil ini lakukan?”

“Kamu lihat buku yang dipegang oleh anak laki-laki? Dia bercerita tentang macam-macam warna Bumi kepada si anak perempuan. Tentang samudera yang biru. Lembah hijau. Pegunungan bebercak putih. Tanah-tanah coklat tempat tinggal tumbuhan berwarna-warni. Hewan-hewan beragam warna dan bercorak unik. Eh, aku mau menambahkan sesuatu.”

Kat mengambil buku sketsa dariku. Dia kembali duduk dan menyibukkan tangan kanannya dengan pensil-pensil –hitam dan warna. Dalam hitungan menit yang singkat, Kat menyerahkan buku sketsanya lagi kepadaku.

“Seekor hewan ikut penasaran dengan cerita si anak laki-laki,” ujar Kat, selagi aku melihat segumpal makhluk putih –kucingku—sedang meringkuk di dekat kaki si anak perempuan.

Kat berkata lagi —aku menangkap sedikit kegetiran pada suaranya, “…akan lebih bagus bila aku bisa mengingat semuanya… ketika Bumi masih menjadi rumahku.”

Tepat pada saat aku hendak membalas ucapannya, pintu di belakang kami terbuka. Deron menampakkan diri.

“Calla, kemana saja kamu? Aku menunggu dari tadi.”

“Memangnya kita janjian bertemu?” tanyaku heran.

Deron melotot dan memberikan tatapan ikut-aku-segera-dan-jangan-membantah yang intens. Aku pun mengembalikan buku sketsa kepada Kat. “Terima kasih untuk pelajaran menggambar hari ini, Kat.”

Kemudian, yang terakhir kulihat sebelum menutup pintu di belakangku, adalah tatapan Kat yang mengingatkanku pada sorot mata kucingku di suatu masa.

***

 “Tadi itu apa?”

Itu yang Deron katakan segera setelah kami memasuki laboratorium. Pada kaca di dekat bak cuci, aku melihat alisku mengernyit.

“Apanya yang apa?” tanyaku.

“Aku mengawasi kalian dari ruang rekaman. Lupa bahwa semua tindak-tandukmu di sini diawasi kamera?”

Aku hanya menjawab dengan decakan lidah.

Deron menghela napas. “Dengar, Calla, jangan biarkan dirimu dipengaruhi seorang Kat yang masih berotak bocah itu.”

“Dia sudah dua puluh tahun.”

“Dan kamu lima tahun lebih tua darinya. Berpikirlah dengan lebih rasional. Insting apanya, gunakan akal sehatmu, demi Gaia.”

Deron selalu menyebut dua kata itu acap kali dia menyerapah: demi Gaia. Gaia, pesawat raksasa tempat kami berada saat ini, yang akan lepas landas dalam beberapa hari ke depan. Setelah meninggalkan daratan, Gaia tidak akan kembali lagi ke Bumi. Dia akan mengarungi semesta menuju satu planet yang sudah diincar melalui penelitian dan pengembangan teknologi berdekade-dekade lamanya. Hanya beberapa manusia terpilih –seribu dari seratus juta penduduk Bumi yang tersisa– yang akan dibawa serta oleh Gaia.

“Gaia bukan dunia kita. Kita harus kembali ke Bumi,” kataku.

“Apa kubilang, Kat sudah mempenetrasimu.”

“Paling tidak, kita harus mengembalikan memori orang-orang di Gaia.”

“Jangan lupakan tujuan utama kita, Calla. Alasan memori mereka disembunyikan, dan alasan kamu memilih, secara sukarela, untuk menyerahkan ingatan dan rupa lamamu. Kenangan tidak memberi apa-apa selain penghalang bagi masa depan yang lebih baik. Biar ilmu dan logika saja yang menjadi penuntun kita.”

Deron membelai pipiku. Permukaan tangannya yang kasar, tapi hangat, selalu berhasil membungkam protesku. Namun kali ini, larutan dalam botol-botol vial dan jarum-jarum seolah memanggilku dari dalam lemari simpanan.

Memori-memori itu dapat dikembalikan. Yang kamu perlukan hanya menginjeksikan cairan-cairan itu…

“Gaia adalah masa depan. Bumi adalah masa lalu. Sekarang, bantu aku mempersiapkan serum-serum penunjang.”

Kata-kata pemungkas dari Deron pun mengawali pekerjaan kami pada sore hari itu.

***

Hari sudah malam ketika aku kembali ke bilikku. Sulit mengetahuinya bila tidak mengecek jam. Pemandangan di luar jendela sama kelabunya dengan siang hari. Setelah melepaskan jaket, menggantungkannya pada pengait di dinding, serta mengurai rambutku, aku baru menyadari ada sesuatu di atas kasur.

Sehelai kertas berpoles gambar buatanku siang tadi. Pasti Kat yang mengantarnya kemari.

Namun ada yang berbeda: sekarang tidak hanya kucingku yang berada di atas kertas. Ada gambar tambahan: bunga-bunga berputik kuning dan berkelopak putih, berbentuk nyaris seperti corong, bermekaran di sekeliling si kucing putih. Bunga Calla.

Kat senantiasa keras kepala melalui cara terhalusnya, meski kali ini aku tidak bisa menyangkal dia.

Bumi adalah rumah bagiku, kucingku, orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang kulupakan: bagi memoriku yang direnggut. Mereka tidak ada di dalam Gaia atau tempat manapun yang menjadi destinasinya.

Kurogoh kunci laboratorium dari dalam saku jaket. Kini aku tahu apa yang harus kuperbuat.

WANDERER

Waktu mengutukku menjadi predator buas

Akustik tawa lirih kutukar dari dengung makian

Nelangsa kurundung pada debu-debu yang kau hirup

Dalihmu takkan membuat nyaliku meredup, bahkan

Enggan aku berpaling lagi pada tawaran secangkir hiprokit

Retak pundi-pundi hinaan menyeru puing-puing bisu, biar kau tahu

Enigma membungkam janggal dan sesalku yang kumal

Ranahku menyemesta, merayu kata, tanpa sulur sesatmu

Blog at WordPress.com.

Up ↑